Dari limbah jadi oleh-oleh, mahasiswa UNIBA ciptakan popodecor khas Surakarta
SURAKARTA – Limbah popok yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan kini diubah menjadi produk dekorasi bernilai ekonomi dan budaya oleh mahasiswa Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta. Melalui POPODECOR (Eco Concrete Home Decor), mahasiswa UNIBA mengembangkan dekorasi rumah berbasis eco concrete dengan memanfaatkan material hasil olahan limbah popok sebagai salah satu bahan campuran, sekaligus menghadirkannya sebagai souvenir ramah lingkungan yang mengangkat identitas khas Surakarta. Inovasi ini berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
POPODECOR dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas program studi yang diketuai Gempa Putra Sadewa dari S1 Teknik Industri, bersama Muhamad Abdul Sarbini dan Harits Sa’id Asykariyyah dari S1 Teknik Industri serta Siti Sundari dan Catur Mardiningsih dari S1 Manajemen, dengan pendampingan dosen pendamping yaitu Ibu Sri Purwati, S.T., M.T. Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan POPODECOR, mulai dari inovasi material dan perancangan produk hingga strategi bisnis serta pemasaran. Gagasan ini berangkat dari upaya melihat limbah bukan hanya sebagai persoalan yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat diolah dan diberi nilai tambah.
Melalui proses pengolahan, material dari limbah popok dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam material eco concrete berbasis semen. Material tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk dekorasi yang menggabungkan fungsi estetika dengan pesan keberlanjutan. Konsep ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali material sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi lebih panjang. Dengan pendekatan tersebut, POPODECOR menawarkan cara pandang baru bahwa inovasi pengelolaan limbah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan produk kreatif dan kewirausahaan mahasiswa.

Tidak berhenti pada inovasi material, daya tarik utama POPODECOR terletak pada perpaduan antara isu lingkungan dan kekayaan budaya Surakarta. Produk dirancang dengan mengangkat berbagai ikon lokal, antara lain keris, rumah joglo, gunungan wayang, Tugu Lilin, dan Plengkung Gading. Ikon-ikon tersebut tidak hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi juga memperkuat karakter POPODECOR sebagai souvenir khas Surakarta. Konsumen nantinya tidak sekadar mendapatkan produk dekorasi, tetapi juga membawa pulang representasi budaya lokal dalam bentuk karya yang memiliki cerita tentang keberlanjutan.
“Kami ingin POPODECOR bukan hanya menjadi produk dekorasi, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan bahwa limbah dapat memiliki nilai ketika diolah melalui inovasi. Pada saat yang sama, kami ingin mengangkat identitas Surakarta melalui desain produk, sehingga aspek lingkungan dan budaya dapat berjalan bersama,” ujar Gempa Putra Sadewa, Ketua Tim POPODECOR.
Pendanaan PKM bidang Kewirausahaan dari Kemendikbudristek menjadi momentum bagi tim untuk mengembangkan POPODECOR tidak hanya sebagai produk inovasi mahasiswa, tetapi juga sebagai rintisan usaha yang memiliki prospek komersial. Pengembangan dilakukan dengan memperhatikan kualitas produk, pengembangan desain dan variasi produk, penguatan identitas merek, strategi pemasaran, serta perluasan potensi pasar. Tim juga melihat peluang untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan karakter pasar souvenir dan ekonomi kreatif Surakarta.
Melalui POPODECOR, mahasiswa UNIBA Surakarta ingin membuktikan bahwa kreativitas dapat mengubah cara pandang terhadap limbah: dari sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sumber inovasi dan peluang usaha. Dengan mengusung semangat “Waste into Worth, Culture into Story”, POPODECOR diharapkan mampu berkembang menjadi produk kreatif ramah lingkungan yang tidak hanya memperkuat kewirausahaan mahasiswa, tetapi juga membawa nama Surakarta melalui souvenir yang unik dan berkarakter. POPODECOR bukan sekadar dekorasi. POPODECOR adalah cerita tentang limbah yang diberi kehidupan baru, budaya yang dikemas dalam bentuk modern, dan kreativitas mahasiswa yang diubah menjadi peluang untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.